Wed. May 25th, 2022

 

 

 

 

Seorang whistleblower, juga dikenal sebagai whistleblower, adalah informasi tentang peran seseorang dalam memberikan informasi tentang topik penelitian tertentu. Oleh karena itu keberadaannya sangat urgen ketika melakukan penelitian, baik yang menggunakan metode penelitian kualitatif maupun kuantitatif.

Penting untuk dipahami, bagaimanapun, bahwa dalam penelitian kuantitatif, penggunaan informan adalah sampel dari populasi tertentu. Sementara itu, dalam penelitian kualitatif, ketika meneliti situasi objek penelitian, hasil penelitian dijelaskan terlebih dahulu, sehingga digunakan orang dalam.

Baca Juga : penulisan daftar pustaka dari jurnal

informan penelitian

Informan yang menulis laporan penelitian biasanya menyajikannya sebelum pembahasan hasil penelitian pada Bab 4. Informasi yang ditampilkan informan selalu disusun dengan deskripsi atau dengan membuat tabel berupa umur, pekerjaan, dll.

Contoh penulisan identitas informan

Sebagai penjelasan lebih lanjut, berikut penjelasan dan contoh yang dapat dibuat dalam menggambarkan informan penelitian. Sebagai contoh;

  1. Deskripsi objek investigasi

Berikut ini adalah nama-nama informan dalam wawancara yang dilakukan oleh tim peneliti, yaitu:

  1. Pak Wariso (Sopir angkot S12 jurusan Ragunan-Lebak Bulus)

Pak Wariso adalah informan pertama yang diwawancarai peneliti. Ia adalah sopir angkot S12 jurusan Ragunan-Lebak Bulus. Selama wawancara, Pak Wariso adalah orang yang ramah yang menanggapi dengan antusias setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

  1. Bp Leo (Sopir Angkutan Umum, Ragunan-Lebak Bulus trayek S12)

Pak Leo informan kedua yang diwawancarai peneliti juga merupakan sopir bus S12 jurusan Ragunan-Lebak Bulus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, dan beliau juga sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

  1. Pak Herman (Sekretaris Yayasan Mitra Netra)

Informan ketiga yang diwawancarai oleh peneliti adalah Bapak Herman, staf sekretariat Yayasan Mitra Netra, yang bekerja untuk meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi penyandang tunanetra. Bapak Herman juga merupakan informan yang ramah dan antusias dalam menjawab pertanyaan dari peneliti.

  1. Mr Warmin (Terapis Pijat Buta)

Bapak Warmin, informan keempat yang diwawancarai oleh peneliti adalah seorang tukang pijat tunanetra yang menjalankan panti pijat dari rumahnya sendiri di kawasan Pondok Labu Jakarta Selatan, dan juga menerima telepon dari klien untuk pijat.

Awalnya Pak Warmin tampak menolak peneliti untuk datang ke rumahnya, namun akhirnya Pak Warmin bersedia menerima kehadiran peneliti di rumah dan dengan senang hati menjawab pertanyaan peneliti berdasarkan pengalamannya.

  1. Pak Jariyat (penjual biskuit telepon untuk tunanetra)

Pak Jariyat, informan terakhir yang diwawancarai peneliti adalah penjual kue kering untuk tunanetra. Bapak Jariyat diwawancarai oleh peneliti dimana beliau biasa berjualan kue kering yaitu di wilayah Cinere Jawa Barat. Beliau sangat ramah kepada peneliti dan dengan senang hati berbagi pengalaman dan menjawab pertanyaan dari peneliti.

  1. Buat identitas informan dalam bentuk tabel

Di sisi lain, pengaturan untuk memberikan penjelasan tentang identitas informan untuk kepentingan penelitian dapat berupa daftar tabel. Sebagai contoh;

Dari menulis hingga menggunakan formulir penelitian yang disingkat, penelitian sensitif sering kali diperlukan untuk menyembunyikan identitas informan. Misalnya, hal ini seperti mempelajari terorisme di desa atau di tempat lain.

  1. Penulisan standar untuk informan penelitian

Adapun kriteria pengisian pelapor dapat dilakukan pengaturan sebagai berikut;

Adapun kriteria menjadi informan dalam sebuah penelitian adalah:

  1. Pelaku pariwisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir seperti pengusaha, pemilik tempat penginapan atau pemilik hotel/wisma, pemilik restoran/warung/warung/restoran, pengusaha souvenir, tokoh masyarakat,

sektor pariwisata.

  1. Turis atau wisatawan yang ditemui selama penelitian.

Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan, dapat dikatakan bahwa unit analisis informan penelitian adalah hal-hal yang dianggap sebagai objek penelitian, yang memiliki semua unsur jangkauan fokus penelitian. Dalam hal ini, setidaknya mencerminkan bahwa pelapor adalah subjek yang memahami pertanyaan penelitian, sebagai aktor atau orang yang memahami pertanyaan penelitian.

Oleh karena itu dalam pemilihan informan diperlukan kriteria tertentu agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Ini adalah satu-satunya artikel yang dapat menunjukkan kepada semua pembaca contoh menggambarkan identitas seorang informan ketika menyiapkan laporan penelitian. Semoga memberikan gambaran bagi semua yang membutuhkannya.