Sun. Dec 4th, 2022

Berita palsu dan disinformasi dapat memiliki efek bencana dunia nyata di dunia saat ini. Bencana baru-baru ini seperti Bom Bali 2002, Tsunami Samudra Hindia 2004, dan Pandemi COVID-19 2014, untuk beberapa nama, dapat dihindari jika informasi yang tepat telah diberikan.

Pada Juni 2021, Facebook mengumumkan Alat Baca Umpan Berita untuk memerangi penyebaran berita palsu. Alat, yang tersedia melalui aplikasi iOS dan Android, memungkinkan pengguna untuk menganalisis legitimasi berita yang mereka baca dengan mengevaluasi sumber, konten, dan penerbit. Meskipun alat ini dimaksudkan untuk membantu pengguna memutuskan apakah akan mempercayai sumber berita atau tidak, banyak yang menjuluki acara tersebut sebagai “minggu kesadaran berita palsu”. Apakah layak untuk menjauh dari berita palsu? Haruskah fokusnya pada menghapus outlet berita yang bias dari platform media sosial, atau haruskah pengguna hanya belajar untuk menemukan konten yang bias?

Mengidentifikasi Bias dalam Laporan Berita

Tidak mungkin untuk mengatakan apakah sebuah berita bias hanya dengan melihat sumbernya. Materi harus diperiksa dalam konteks keseluruhan artikel untuk menentukan apakah itu bias. Meskipun terbukti bahwa pemerintah daerah memilih untuk melarang media mempublikasikan rencana bom di Bali, penting juga untuk menyoroti bahwa pemungutan suara itu bulat, dan langkah itu dimaksudkan untuk melindungi penduduk setempat dari ketakutan. Itu tidak diciptakan untuk memberangus pers. Laporan berita dari media seperti GenBerita yang selalu menghadirkan berita yang menarik hari ini selalu menghindari pembiasan berita yang dapat membingungkan masyarakat.

Dengan pernyataan itu, ada beberapa sinyal dalam sebuah berita yang menunjukkan bias

– Penggunaan sumber yang berlebihan: ketika sebuah artikel menyebutkan banyak sumber untuk materi yang sama, biasanya itu merupakan tanda bahwa data tersebut telah dimanipulasi.
– Kurangnya sumber: ketika sebuah artikel hanya mengutip satu atau dua sumber, dan sumber tersebut juga satu-satunya yang dapat mengomentari informasi tersebut, biasanya itu merupakan tanda bahwa itu bias.
– Sumber buruk: Jika sebuah cerita bergantung pada sumber yang tidak dapat dipercaya, seperti laporan yang tidak berdasar, kemungkinan kontennya miring.
– Parafrase yang menyesatkan: ketika sebuah artikel menggunakan kata atau frasa yang menyesatkan dalam konteks, biasanya itu merupakan tanda bahwa materi tersebut tidak akurat.
– Keterangan foto yang tidak akurat: Ketika sebuah artikel menggunakan bahasa yang bermuatan emosi atau foto yang menipu dalam konteksnya, biasanya itu merupakan tanda bahwa kontennya miring.
– Bias ketersediaan: Ketika sebuah artikel hanya mengandalkan sumber internet, biasanya itu pertanda bahwa kontennya miring.
– Bias mengutip: ketika sebuah artikel hanya merujuk pada satu sumber yang tersedia dalam bentuk elektronik, biasanya itu merupakan tanda bahwa materi tersebut miring.

By Drajad