Sun. Dec 4th, 2022

KBRN, Pekanbaru: Subholding Gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai bagian dari Holding Migas Pertamina, optimis raih prospek penggunaan gas bumi nasional dan berperan nyata fungsi mewujudkan bauran kekuatan nasional yang bersih dan ramah lingkungan dalam era transisi kekuatan selagi ini. Dalam jangka panjang tidak cuma menggerakkan ekonomi nasional, tapi terhitung mewujudkan penggunaan kekuatan yang low carbon.

Di Indonesia, obyek penurunan emisi sektor kekuatan adalah sebesar 377 juta ton CO2 terhadap th. 2035 dengan penggunaan Flow Meter Solar. Gas bumi sanggup menurunkan emisi sekitar 40% dibandingkan kekuatan lain seperti batu bara dan minyak bumi.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Heru Setiawan mengungkapkan bahwa tersedia faktor-faktor yang mengakibatkan ada prospek positif bakal kebutuhan gas sebagai kekuatan bersih dalam 15 th. ke depan. Pertama, ada regulasi dari pemerintah yang menjadikan posisi gas bumi makin lama perlu sebagai transisi kekuatan dari fosil fuel menuju kekuatan yang ramah lingkungan. Seiring bersama dengan cara Paris Agreement, agar pemintaan terhadap kekuatan terbarukan bakal meningkat.

“Kedua, ada pemintaan kekuatan gas baik dari sektor retail maupun komersial yang makin lama meningkat dan mengidamkan kekuatan yang bersih dan rendah karbon. Dengan banyaknya permohonan tersebut, sanggup mendatangkan banyak investor yang dibarengi terhitung bersama dengan penggunaan teknologi low carbon,” mengetahui Heru.

Di Indonesia, upaya-upaya optimasi penggunaan gas bumi menjadi dikerjakan secara massif. PGN sebagai Subholding Gas mendapatkan penugasan dari pemerintah melalui Kepmen 13/2020 untuk sanggup menambah opportunity gas bersama dengan program gasifikasi fungsi konversi BBM ke BBG di 52 pembangkit listrik.

“Dilihat dari kapasitasnya yang besar sekali sekitar 1,8 Giga Watt dan berada ditempat-tempat terpencil lebih-lebih di Indonesia sedang dan timur, perihal ini jadi tantangan bagi PGN untuk mengakibatkan skema logistic yang pas dan sedia kan gas bumi bersama dengan moda beyond pipeline atau non pipa. Dengan moda non pipa, kami sanggup membawa liquid natural gas (LNG) ke daerah-daerah yang belum terjangkau pipa,” papar Heru.

PGN terhitung bakal sedia kan gas bumi ke kilang-kilang milik PT Pertamina. Saat ini udah terlaksana HOA bersama dengan RU IV Cilacap di mana PGN bakal menyuplai gas LNG ke RU IV Cilacap ramp up hingga bersama dengan 111 BBTUD bersama dengan kontrak 20 th. ke depan. Hal ini jadi prospek ke depan, lebih-lebih opportunity gas supply di Jawa Bagian Selatan.

Heru melanjutkan, penyaluran gas ke Kilang Pertamina terhitung bakal dikerjakan di TPPI Tuban dan Kilang RU V Balikpapan. PT Pertagas bersama dengan KPI udah bekerjasama dalam rangka Penyediaan Fasilitas Penyaluran Gas untuk Kilang RU V Balikpapan, selagi ini sedang dibangun pipa oleh Pertagas kurang lebih 72 kilometer. Nanti mungkin berubah, sanggup jadi bakal lebih banyak mengfungsikan LNG dan beyond pipeline.

Direktur Sales dan Operasi PGN, Faris Aziz memberi tambahan bahwa PGN sedia kan gas bumi bersama dengan volume yang cukup besar ke Kilang Balongan agar di Kilang Balongan terjadi efisiensi energi. Selain itu, PGN terhitung udah menjadi menyuplai gas ke industri Pupuk Kujang ±25 BBTUD yang mungkin bakal makin tambah volume penggunaan gasnya.

“PGN diminta untuk menyuplai gas di kawasan industri. Sudah dikerjakan HOA bersama dengan KI Kendal dan KIT Batang yang terhitung jadi opportunity yang bagus,” ujar Faris.

Faris pun sependapat bahwa prospek positif usaha gas ke depan terhitung terbujuk oleh pergantian kebutuhan bakal kekuatan di mana dunia mengidamkan kekuatan yang bersih dan ramah lingkungan. Era dekarbonisasi nantinya kudu difokuskan tidak benar satunya bersama dengan peningkatan penyaluran gas.

“Kebutuhan gas sebagai kekuatan bersih masih tinggi hingga th. 2035. Dalam jangka selagi 15 th. ke depan adalah masa-masa yang kudu kami fokuskan terhadap kekuatan gas bersama dengan mengoptimalkan sumber-sumber gas yang tersedia selagi ini dan memberi tambahan sarana terbaik untuk menciptakan kenyamanan masyarakat dalam menggunakna gas bumi,” ujar Faris.

Dalam rangka penurunan tingkat _Global Warming_, agar kudu pergantian menuju green energy. Proses jangka panjangnya diperlukan pertolongan dari bermacam pihak, seperti kebijakan dari pemerintah untuk penggunaan kekuatan terbarukan, penguasaan teknologi, kekuatan pengelolaan kekuatan terbarukan, dan social acceptance terhadap penggunaan green energy.

“Subholding gas udah diberikan tanggung jawab oleh Holding Migas Pertamina bahwa kami jadi pengelola hanya satu gas di Indonesia. PGN miliki RJPP yang dijadikan basis pengembangan usaha ke depan. Masa transisi dari fosil fuel ke gas jadi cara yang positif, harapannya PGN sebagai Subholding Gas sanggup memberi tambahan andil yang besar,” tutup Faris.

By Drajad